Digores oleh Sagara Gelora.
Terik mendekap sarira kala baskara tegak di pucuk angkasa. Tiada satu pun yang surut oleh sengatnya; sebab laga yang sekian lama dinanti akhirnya menjelma nyata, menyalakan ambisi yang telah lama bersemayam di relung sukma.
Di hadapannya terbentang sederet asma milik para sukma penghuni koloni. Maniknya menyusuri satu demi satu, hingga akhirnya tertumbuk pada sebuah jenama yang telah lama dikenalnya.
Nadeleine Arutala
Senyum tipis tersungging di parasnya. Keangkuhan yang lama bertakhta dalam senandika perlahan merambat naik, membisikkan keyakinan yang nyaris menyerupai kesombongan. Dalam genggamannya tersemat sebuah papan kosong yang kemudian diangkat tinggi agar dapat disaksikan oleh siapa saja.
"Yang bersemi pun gugur oleh rengkah setitik," ujarnya lirih, namun cukup nyaring untuk menjangkau setiap pasang telinga.
"Wahai, Nadeleine Arutala. Aku memilihmu sebagai penantangku. Laga ini digelar untuk menakar siapa yang paling mumpuni di antara kita. Bila sukma dan nyalimu tak menyanggupi, maka mundurlah sekarang. Sebab aku tidak datang untuk sekadar bertanding, aku datang untuk membuktikan bahwa tiada seorang pun yang mampu menyentuh puncak yang telah kuraih."
Langkahnya bergeser perlahan. Papan itu dipertontonkan ke hadapan khalayak, menyingkap deretan angka yang membuat sebagian sukma menahan napas. Terpatri jelas angka 10.764 pada permukaannya, seakan menjadi lencana kemenangan yang kian menyuburkan keangkuhan dalam dirinya.

"Itulah hasil yang kuperjuangkan dengan seluruh perhitungan dan kewaspadaanku. Namun jangan salah mengira bahwa angka-angka itu hanyalah angka."
Tatapannya menajam.
"Setiap langkah menyisakan pola. Setiap pola melahirkan celah. Dan dari celah itulah kehancuran menemukan jalannya."